Sejarah Kerak Telor di Jakarta

Sejarah Kerak Telor di Jakarta

Sejarah Kerak Telor di Jakarta

Sejarah Kerak Telor di Jakarta, – Perayaan HUT DKI Jakarta tak akan lepas dari nuansa budaya Betawi, termasuk kulinernya. Dari sederet kuliner khas Betawi, kerak telor terbilang cukup populer, bahkan bagi masyarakat di luar Jakarta. Makanan satu ini seolah wajib dicicipi saat bertandang ke ibu kota.

Kerak telor dipercaya telah eksis sejak lama. Makanan ini telah mengisi sendi-sendi kehidupan masyarakat Betawi dari waktu ke waktu.

Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra menyebut, kerak telor sudah ada sejak lama. Dari obrolannya bersama para sesepuh Betawi, dia menduga makanan ini telah ada sejak abad 19 atau awal abad 20.

Yahya menduga, kerak ini lah yang menginspirasi pembuatan model makanan lain, seperti salah satunya kerak telor.

Kerak telor sendiri merupakan makanan yang terbuat dari bahan dasar beras ketan dan telur. Kedua bahan utama itu ditambah dengan campuran bumbu seperti cabe, kencur, jahe, dan merica sehingga menghasilkan cita rasa yang khas.

Proses pemanggangan dilakukan menggunakan tungku bara api. Adonan bakal diletakkan pada wajan kecil dan dipanggang hingga matang.

Setelah matang, kerak telor biasa disajian dengan campuran serundeng, ebi, dan bawang goreng.

“Pertama kita lihat dari keraknya. Orang-orang Betawi, kan, kalau masak di wadah-wadah yang dari gerabah, tanah liat, sehingga kalau mereka ada yang masak bubur, ngaduk dodol, itu, kan, ada sisa-sisa yang menempel pada wadah sehingga itu disebut kerak,” jelas Yahya saat dihubungi via telepon, Sabtu.

Dihubungi terpisah, sejarawan J.J Rizal mengatakan bahwa banyak orang terjebak dengan istilah ‘kerak’ dan menganggap bahwa kerak telor merupakan panganan olahan sisa nasi.

Menurut Rizal, dalam kerak telor, kata ‘kerak’ merujuk pada teknik memasak nasi yang umum dilakukan masyarakat Betawi agraris. “Kerak di sini merujuk pada teknik memasak nasi, bukan sisa olahan nasi,” ujar Rizal saat dihubungi pada hari Minggu.

Kala itu, beras ketan-sebagai bahan dasar kerak telor-menjadi panganan pokok masyarakat Betawi agraris yang dahulu terletak di Karawang dan sekitarnya. Beras ketan menjadi salah satu komoditi utama.

Beras ketan ini kemudian dipadukan dengan serundeng yang terbuat dari kelapa yang disangrai. Kelapa sendiri merupakan bahan pangan masyarakat Betawi yang tinggal di pesisir pantai.

Warga Jakarta tentu sudah tak asing dengan kuliner khas Betawi, kerak telor. Bagaimana tidak, kerak telor menjadi santapan yang paling sering dijajakan penjual di Kota Jakarta, mulai Monas hingga Taman Mini Indonesia. Tak hanya di Jakarta, makanan khas Betawi ini juga sudah dijual di luar kota, bahkan luar negeri.

Sejatinya, kerak telor sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Pasalnya, makanan ini diciptakan secara tak sengaja oleh sekawanan orang Betawi yang tinggal di Menteng, Jakarta Pusat.

Kala itu, masyarakat Betawi mencoba membuat beragam makanan dengan mencampurkan beberapa bahan, salah satunya adalah buah kelapa. Ternyata, percobaan tersebut justru menghasilkan kudapan lezat, yakni kerak telor.

Pada 1970, kerak telor mulai dijajakan di kawasan Tugu Monas. Tak disangka, makanan itu ternyata menarik perhatian banyak orang. Cita rasanya yang legit dan lezat membuatnya wisatawan berdatangan ke Kota Jakarta. Bahkan, kudapan tersebut telah menjadi makanan untuk kaum elite.

Kudapan yang disebut sebagai omelet Betawi ini dibuat dengan bahan yang sederhana. Bahan-bahannya adalah beras ketan, telur, dan rempah-rempah sebagai penyedap rasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *