Pengusaha Angkutan Darat Rugi Rp9 T

Pengusaha Angkutan Darat Rugi Rp9 T

Pengusaha Angkutan Darat Rugi Rp9 T

Pengusaha Angkutan Darat Rugi Rp9 T. Organisasi Angkutan Darat (Organda) menyebut anggotanya sudah rugi Rp9,05 triliun per bulan akibat penyebaran virus corona di dalam negeri. Kerugian terbesar sudah terjadi pada Maret-April 2020.

Kerugian terjadi akibat adanya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama penyebaran virus corona (covid-19). Ketua Umum DPP Organda Adrianto Andre Djokosoetono mengatakan bahwa kebijakan itu membuat semua pebisnis angkutan kehilangan penumpang. Ia mengatakan sebagian kerugian tersebut berpotensi masih akan bertambah.

Ia pesimis pendapatan anggotanya bisa dapat kembali lagi seperti semula walaupun pemerintah sudah mulai melonggarkan kebijakan PSBB.

Kerugian terbesar dipicu oleh larang operasi yang diterapkan pemerintah pada masa PSBB Jabodetabek. Kemudian, kerugian terbesar kedua juga diikuti oleh bus antar kota dan antar provinsi (AKAP) yang menanggung rugi sebesar Rp2,91 triliun.

Sedang kerugian lain dialami pelaku usaha angkutan pariwisata. Kerugian sudah mencapai Rp1,36 triliun. Kerugian tersebut, merupakan angka di luar angkutan barang yang bergerak bervariasi mengikuti inovasi dan adaptasi terhadap perusahaan masing-masing.

Sementara itu Wakil Ketua III Dewan Pembina Darah Organda DKI Petrus Tukimin mengatakan di tengah kerugian tersebut, para pelaku usaha angkutan darat mendapatkan beban baru. Beban itu datang dari imbauan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) kepada seluruh pengusaha angkutan untuk mulai memasang lampu ultraviolet untuk dapat mencegah penularan covid-19 di bus sedang maupun kecil.

Ia mengatakan agar kerugian tak semakin menjadi, Organda meminta seluruh anggotanya untuk lebih getol berinovasi. Inovasi salah satunya bisa dilakukan dengan seperti menyediakan layanan berbasis teknologi agar dapat keluar dari krisis pandemi covid-19.

“Seberapa cepat anggota kami bisa berinovasi melakukan layanan tambahan melihat permintaan yang berkembang dalam jangka pendek-panjang,” sambungnya.

“Sudah pasti akan keberatan, karena harganya kan enggak murah. Belum lagi jumlahnya sekarang angkutan udah berkurang karena banyak yang tutup,” katanya.

“Kalau itu hilang, ya seberapa tahan? Saya sependapat temen-temen, itu kalau berkepanjangan semuanya lempar handuk 2-3 bulan, lempar handuk, nggak bisa ngapa-ngapain,” ujarnya.

“Dengan sisa penumpang 10% saja sudah tidak cukup untuk bayar bunga kredit. Sama seperti yang terjadi di angkutan udara. Kebijakan relaksasi perpajakan dan BPJS juga diharapkan segera ada realisasi,”

“Kami di angkutan penumpang dampaknya paling besar Maret-April per bulan lost revenue (hilang pendapatan) Rp9,05 triliun,” ucapnya lewat video conference di konferensi daring Markplus Industry Roundtable.

Ia merinci kerugian terbesar dialami oleh angkutan bus antar kota dan provinsi (AKDP). Menurutnya, kerugian pelaku usaha AKDP mencapai Rp3,27 triliun pada periode tersebut.

Merujuk data Organisasi Angkutan Darat (Organda), ada sekitar Rp 9 triliun potensi pemasukan angkutan darat per bulan yang hilang selama pandemi. Moda darat tersebut mencakup armada bus, taksi, angkutan dalam kota, sampai angkutan antar provinsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *