Minta Keringanan Pajak ke Anies karena PSBB

Minta Keringanan Pajak ke Anies karena PSBB

Minta Keringanan Pajak ke Anies karena PSBB

Minta Keringanan Pajak ke Anies karena PSBB, – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI) meminta pemerintah daerah mempertimbangkan posisi pengusaha saat menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pemerintah diminta memberikan keringanan dalam hal pajak.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia atau PHRI Maulana Yusran menyayangkan rencana tersebut, sebab menurut dia jika restoran dibuka hanya dengan take away akan lebih membebankan pengusaha, begitu pun dengan beroperasinya hotel di masa pandemik.

“Bisnis hotel dan restoran ini kan mengandalkan interaksi orang,” katanya, Kamis.

Karyawan terancam PHK

Dikutip dari laman http://canoecreekgolf.com, Selain itu, menurut Maulana, pemerintah juga seharusnya memperhatikan dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja. Sebab, tak menutup kemungkinan bisnis tersebut akan merumahkan dan melakukan PHK, sebagai bentuk efisiensi di tengah PSBB.

“Saat ini berbicara daya tahan, kalau daya tahannya gak kuat, ya dia efisiensi dengan mengurangi jumlah karyawan,” jelasnya.

Pengusaha hotel dan restoran minta keringanan pajak dari pemerintah

Maulana berharap agar pemerintah memberikan keringanan seperti misalnya memberikan insentif pajak, sehingga pengusaha tak dipusingkan dengan beban pajak hingga terjadi pemulihan ekonomi ke depannya.

“Kalau mengambil keputusan PSBB beban pajak tolong dihilangkan dong, bisnisnya kan pasti gak jalan. Jangan pemerintah ngambil kebijakan, pajak ditarik juga, sementara bisnis gak jalan,” ujarnya.

Adapun sejumlah insentif pajak yang dimaksud berupa pajak bumi dan bangunan (PBB), pajak reklame, hingga pajak kendaraan. Tak hanya insentif pajak, dia juga meminta pengusaha diberikan Bantuan Langsung Tunai alias BLT.

PHRI sebut Gubernur DKI Anies Baswedan belum memberikan relaksasi selama pandemik

Menurutnya, selama enam bulan masa pandemik COVID-19, pemerintah daerah belum memberikan relaksasi apapun terhadap pengusaha.

“Contoh PBB, dulu Gubernur bilang mau memberikan relaksasi beban PBB tapi ditarik lagi kan? PBB, beban reklame itu kan pajak semua,” katanya.

Dia mengatakan kondisi sekarang seolah-olah seperti dibalik, tanpa pernah memberikan insentif pemerintah justru menarik pajak dari pengusaha, padahal bisnis mereka juga tidak jalan.

“Boleh aja lakukan kebijakan itu, tapi ringankan beban pengusaha. Kan gak mungkin pengusaha yang hidupkan pemerintah, mereka enak aja cuma terima duit kita,” jelasnya.

Comments are closed.