Spiritual dan Agama, Apa Bedanya?

Spiritual dan Agama, Apa Bedanya?

Spiritual dan Agama, Apa Bedanya? 

spirituality vs religion 18 638 - Spiritual dan Agama, Apa Bedanya?

Spiritual dan Agama, Apa Bedanya? Bagi sebagian besar orang di dunia, agama itu ya spiritual. Dan spiritual itu ya agama. Padahal, semua itu tidak bisa disamakan atau dianggap sama saja karena ada beberapa hal yang mendasar yang membedakannya. 

Perbedaan yang paling jelas adalah dalam dunia spiritual tak ada syarat dan ketentuan khusus tentang bagaimana seseorang itu menjalankan praktik-praktik spiritualnya. Sementara di dalam agama, untuk menjalankan setiap bagian dari peraturannya diperlukan ketentuan-ketentuan atau peraturan khusus untuk melaksanakannya. Tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membebaskan pemeluknya dari agama, begitu pula tanpa ada aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan yang menjadi syarat atau ketentuan pelaksanaannya. Nah, hal inilah yang paling terang yang dijadikan pembeda dari ajaran-ajaran spiritualitas dan agama. 

Kalau begitu, lantas pakai cara atau gaya apa para spiritualis menjalankan ajaran-ajaran spiritualnya? Ya pakai gaya bebas lah 🙂 Mau pakai gaya atau cara apa pun boleh-boleh dan syah-syah saja, asalkan maksud dan tujuan ajaran spiritualnya itu disetujui atau terlaksana. Tidak mengubah dari maksud dan tujuan pembicaraan itu. 

Meminta spiritualis tidak memiliki pandangan yang kaku perihal sesuatu. Sebaliknya malah sangat terbuka dan memiliki pandangan yang bebas terhadap hal-hal lain yang ada di luar (pengajaran) nya. Sambil terbuka dan bebasnya, para spiritualis terkadang dikesankan sebagai sekelompok orang-orang yang tidak memiliki pandangan tertentu terhadap dan tentang kehidupannya sendiri. Hampir-hampir mirip orang-orang yang labil dan tidak memiliki keyakinan terhadap hal-hal tertentu. 

Nah, jelas toh bedanya dimana? Jika di dalam agama jelas kebebasan dalam cara dan gaya dalam melaksanakan ajaran-ajarannya itu tidak membantah. Melanggar sedikit saja aturan-aturan yang sudah ditetapkan itu sudah bisa dikategorikan sebagai bentuk yang disetujui agama loh. Atau kadang-kadang mempertimbangkan penodaan pada pertemuan agamanya itu. Atau setidak-tidaknya, pelaksanaan agamanya itu dikategorikan tidak syah demikian harus diulang. Kayak DIA gitu 🙂 Harus diulang karena pelaksanaan yang pertama tidak syah. Ada aturan atau ketentuan yang terlewati. 

Btw, kalau di spiritual ada “GAGAL” dan “DIA” juga ya? 🙂 Ya ada. Jika dalam hal itu ya hampir sama dengan agama. Mengenal “GAGAL” dan “HER”. Lha bagaimana bisa bertanya jika rujukan mengajarkannya saja tidak punya (ada) ??? Siapa yang melihat orang spiritualis tidak punya referensi atau anggaran dasar rumah tangga? 🙂 Ada dong acuan atau iklan / artnya. Nih acuan atau iklan / artnya. 

Seperti yang telah di bahas di atas tadi, orang-orang spiritualis tidak memiliki keyakinan pada sesuatu atau pada satu hal yang tertentu atau pada satu hal yang spesifik saja, karena spiritual memang netral terhadap semua apa pun yang tidak netral. Kalau tidak netral berarti bukan spiritualis tuh 🙂 Nah, netralitas sesuai iklan / seni atau sesuai aturannya. 

Untuk spiritualitasnya, orang-orang spiritualis tidak bisa dan pastinya tidak akan terdorong untuk memperoleh sesuatu yang berlebihan. Karena dirinya terdorong ke suatu hal yang berlebihan, lebih dari utama-mutlakan, maka netralitas spiritnya pasti akan tercoreng (ternoda). Tercoreng oleh sesuatu yang kemana adalah terdorong. Pada keadaan seperti ini, netralitas spiritual diri pasti akan lenyap. Pasti! Nah, inilah landasan atau iklan / artnya orang-orang spiritualis. 

Setiap spiritualis harus tahu dan mengakui betul mana netral dan tidak netralnya diri spiritual. Jika pembicaraan mengenai netralitas spiritualnya itu maka, seketika itu juga ia terjatuh atau ia keluar dari ajaran spiritualnya. Pijakan spiritualitas masih hilang dan hancur. Nah loh! 🙂 Dan jika sudah begitu, tiada maaf bagimu, bro! 🙂 Kalau mau kembali lagi ke jalan itu ya ngulang lagi dari awal jalan itu! Tidak bisa ujug-ujug meloncat atau menerobos masuk lagi ke tengah-tengahnya, melainkan ke ujungnya. Terpaksa harus mengulang lagi 🙂

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *