Maskapai Akan Bangkrut Jika Okupansi di Bawah 70 Persen

Maskapai Akan Bangkrut Jika Okupansi di Bawah 70 Persen

Maskapai Akan Bangkrut Jika Okupansi di Bawah 70 Persen

Maskapai Akan Bangkrut Jika Okupansi di Bawah 70 Persen – Ketua Dewan Pembina The Habibie Center Ilham Habibie memperkirakan seluruh maskapai di dunia, termasuk Indonesia, akan bangkrut bila okupansi penumpang kurang dari 70 persen dari semua kapasitasnya.

Perkataan itu mengacu pada data Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) yang memperkirakan pendapatan bisnis maskapai penerbangan secara global tahun ini berpotensi menguap sampai US$314 miliar atau Rp4.710 triliun (kurs Rp15 ribu per dolar Amerika Serikat).

Ilham memaparkan hanya akan tersisa empat maskapai yang bisa bertahan melewati badai pandemi covid-19. Walau demikian, Ilham mengaku belum mengetahui maskapai apa saja yang bisa bertahan tersebut.

“Mereka membuat analisis, menurut perhitungan mereka kalau seandainya kita tidak bisa lampaui 70 persen load factor semua airline di dunia akan menuju kebangkrutan kecuali 4 maskapai,” katanya dalam webinar yang digelar Habibie Center, Rabu.

Prediksi itu memang tak berlebihan bila melihat data IATA per 10 April 2020 yang menunjukkan 59 negara sudah memberlakukan travel ban dan pembatasan penerbangan secara total. Sementara, 86 negara memberlakukan travel ban dan pembatasan penerbangan secara parsial.

Pesawat Berhenti Beroperasi

Hal itu pula yang mengakibatkan 1.000 pesawat milik perusahaan penerbangan di Amerika Serikat (AS) diproyeksi berhenti beroperasi sepanjang 2020.

Menurut Ilham, inovasi maskapai penerbangan penting dilakukan terutama dengan mengalihkan fokus pada penerbangan kargo.

Ia juga mengatakan maskapai pelat merah untuk mengoptimalkan penerbangan kargo. Dengan memaksimalkan pesawat penumpang sesuai dengan regulasi yang dibuat kementerian perhubungan.

“Memang perlu ada penyesuaian daripada ruang penumpang itu dan sudah ada beberapa perusahaan yang menawarkan solusi. Bagaimana membawa kargo dalam pesawat penumpang yang tak perlu banyak dimodifikasi,” imbuhnya.

Mengenai hal itu , Direktur Layanan, Pengembangan Usaha dan IT PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Ade R Susardi memaparkan bahwa permintaan charter pesawat kargo memang meningkat di tengah menurunnya okupansi penumpang selama pandemi covid-19.

Tiap harinya, Garuda membutuhkan tambahan 10 pesawat kargo untuk memenuhi kebutuhan pengiriman barang domestik.

“Jadi, begitu ada penurunan nilai penumpang kita melakukan beberapa aktivitas tambahan dan kita lihat kargo malah naik trafiknya dan kita saat ini per hari itu kira-kira punya 10 tambahan charter kargo flight itu yang sedikit membantu cash flow kami,” terangnya dalam kesempatan yang sama.

Ade berpandangan optimalisasi pesawat penumpang memang diperlukan dalam kondisi saat ini. Karena perseroannya belum dapat melakukan pemesanan pesawat kargo tambahan.

“Sebetulnya, punya 2 pesawat khusus kargo yang sudah kita pesan harusnya di-deliver, tapi karena kondisi keuangann. Kami tahan dulu delivery-nya sampai situasi keuangan membaik kita akan antisipasi bisnis kargo akan meningkat,” jelas Ade.

Comments are closed.