Kasus Impor Tekstil di Batam, Bea Cukai Akan Kerja Sama dengan Kejagung

Kasus Impor Tekstil di Batam, Bea Cukai Akan Kerja Sama dengan Kejagung

Kasus Impor Tekstil di Batam, Bea Cukai Akan Kerja Sama dengan Kejagung

Kasus Impor Tekstil di Batam, Bea Cukai Akan Kerja Sama dengan Kejagung – Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi menghargai proses hukum di Kejaksaan Agung mengenai penetapan empat pegawai Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Batam oleh Kejaksaan Agung sebagai tersangka kasus dugaan korupsi importasi tekstil.

Kasus korupsi ini melibatkan dua perusahaan, yaitu PT Fleming Indo Batam dan PT Peter Garmindo Prima.

Heru menjelaskan pihaknya menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah dan akan berkomunikasi dengan pihak Kejaksaan Agung untuk mengetahui hasil penyidikan kasus ini.

Ditjen Bea Cukai juga melakukan penyelidikan mengenai dengan kasus ini. Dia menjelaskan pihaknya akan memberikan informasi kepada tim Kejaksaan Agung terkait hasil penyelidikannya.

“Nanti juga dari hasil penyidikan Bea Cukai, kami akan berikan info kepada tim penyidik Kejagung sehingga ini saling sinergis nanti,” kata Heru.

Sebelumnya, jaksa penyidik Kejaksaan Agung menetapkan empat pegawai Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Batam sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi importasi tekstil pada Dirjen Bea dan Cukai di tahun 2018—2020.

Selain empat pejabat KPU Bea Cukai Batam, tim jaksa penyidik Kejaksaan Agung juga menetapkan satu tersangka seorang pengusaha.

Para tersangka itu, yaitu Mukhamad Muklas selaku Kabid Pelayanan Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Batam, Dedi Aldrian selaku Kepala Seksi Pabean dan Cukai III pada KPU Bea dan Cukai Batam, dan Hariyono Adi Wibowo selaku Kepala Seksi Pabean dan Cukai I pada KPU Bea dan Cukai Batam.

Selanjutnya Kamaruddin Siregar sebagai Kepala Seksi Pabean dan Cukai II pada KPU Bea dan Cukai Batam, dan Irianto selaku pemilik PT Fleming Indo Batam dan PT Peter Garmindo Prima.

Para tersangka diketahui bertanggung jawab kepada pelayanan bea dan cukai di KPU Bea Cukai Batam. Mereka juga sering melayani dan mengurus importasi tekstil dari Singapura ke Batam yang dilakukan PT Fleming Indo Batam dan PT Peter Garmindo Prima.

Perseroan Terbatas (PT) Fleming Indo Batam dan PT Peter Garmindo Prima diketahui sering mengimpor 566 kontainer bahan kain dengan modus mengubah invoice dengan nilai yang lebih kecil untuk mengurangi bea masuk serta mengurangi volume dan jenis barang dengan tujuan mengurangi kewajiban bea masuk tindakan pengamanan sementara (BMTPS) dengan cara menggunakan surat keterangan asal (SKA) tidak sah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *