Harga Minyak Naik 3 Persen

Harga Minyak Naik 3 Persen

Harga Minyak Naik 3 Persen

Harga Minyak Naik 3 Persen –  Harga minyak perlahan merangkak naik hari ini. Optimisme pemulihan permintaan bahan bakar di seluruh dunia jadi sentimen pendorong.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat terpantau naik US$ 15 sen, naiknya sebesar 0,4% menjadi US$ 38,87 atau sekitar Rp 544 ribu per barrel (dalam kurs Rp 14 ribu).

Minyak mentah berjangka Brent pun tercatat naik 22 sen. Kenaikan ini sebesar 0,5% menjadi US$ 41,27 atau sekitar Rp 577 ribu per barrel.

Optimisme kenaikan permintaan bahan bakar sendiri muncul dilihat dari beberapa data satelit yang menunjukkan peningkatan tajam pada lalu lintas di berbagai negara.

Mulai dari China, Eropa, hingga Amerika Serikat menunjukkan kenaikan permintaan karena lalu lintasnya mulai padat. Bahkan, kemacetan di Shanghai dalam beberapa minggu terakhir sudah melebihi kuantitas pada periode yang sama tahun lalu.

Data Komisi Eropa menunjukkan ada perbaikan di seluruh sektor pada Juni 2020. Dari segi sentimen, posisinya naik dari 67,5 pada Mei 2020 menjadi 75,7 pada Juni 2020.

Sementara, keuntungan industri di China meningkat untuk pertama kalinya setelah enam bulan terus menurun. Realisasi ini menunjukkan pemulihan ekonomi sedang terjadi di China.

Ditambah, bursa saham Amerika Serikat (AS) juga menguat pada Senin. Hal itu menambah sentimen positif bagi harga minyak mentah dunia.

Harga minyak naik sekitar USD 1 per barel pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta). Kenaikan harga minyak ini didorong oleh membaiknya data ekonomi di kawasan Asia dan Eropa.

Namun, investor tetap berhati-hati dalam bertransaksi karena masih tetap mempertimbangkan lonjakan tajam kasus Corona di seluruh dunia.

Sementara itu, berdasarkan data perusahaan teknologi lokasi TomTom, lalu lintas Moskow kapasitasnya sudah kembali ke tingkat yang sama seperti tahun lalu.

Namun, agaknya sentimen positif untuk harga minyak ini tidak akan bertahan lama. Pasalnya, gelombang kedua kasus COVID-19 masih membayang-bayangi.

Di AS misalnya, beberapa negara konsumen bensin besar seperti Florida dan Texas telah kembali melaporkan adanya lonjakan kasus baru Corona.

“Risiko wabah baru bisa menekan pemulihan permintaan dan harga minyak,” kata ANZ Research dalam risetnya.

Namun demikian, kenaikan harga minyak mentah dunia terbilang tipis karena pasar masih khawatir dengan gelombang kedua pandemi virus corona. Pasalnya, pasien yang meninggal akibat pandemi itu telah melampaui setengah juta orang di dunia.

Oleh karena itu, beberapa negara bagian di AS memutuskan untuk kembali menerapkan pembatasan di ruang publik setelah ada lonjakan kasus. Salah satunya adalah Pemerintah California yang menutup operasional bar mulai Minggu.

Hal yang sama juga dilakukan Texas dan Florida usai pemerintah Texas mengeluarkan kebijakan penutupan bar pada akhir pekan lalu. Lalu, Washington dan San Fransisco telah menghentikan rencana pelonggaran pembatasan di ruang publik.

Tapi kekhawatiran gelombang kedua pandemi Corona menahan kenaikan harga minyak ke level yang lebih tinggi. Korban tewas dari Cvid-19 melampaui setengah juta orang pada hari Minggu, menurut penghitungan Reuters.

Beberapa negara bagian di Amerika Serikat menerapkan kembali pembatasan setelah terjadi lompatan kasus baru. California memerintahkan bar untuk tutup pada hari Minggu menyusul langkah serupa di Texas dan Florida.

Negara bagian Washington dan kota San Francisco telah menghentikan rencana pembukaan kembali mereka.

“Langkah-langkah lokal ini memang tidak bisa diabaikan. Penutupan secara lokal ini pasti akan berisiko signifikan terhadap permintaan bensin,” kata JBC Energy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *