Cara Pembuatan Garam

Cara Pembuatan Garam

Cara Pembuatan Garam

Cara Pembuatan Garam – Garam beryodium adalah kebutuhan primer yang tidak bisa tergantikan terutama untuk manusia. Menurut penelitian, setiap satu orang perlu memenuhi kebutuhan konsumsi garam beryodium sebanyak 3 kilogram per tahun.

Kekurangan garam beryodium akan mrngakibatkan kerdil, IQ rendah, gondok, dan tingkat keguguran hamil semakin tinggi.

Dalam proses pembuatan garam, ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan. Berikut beberapa di antaranya:

Kualitas Air Laut

Kualitas air laut sangat mempengaruhi proses dan cara membuat garam. Walau mempunyai garis pantai yang amat panjang, tidak semua air laut di pantai Indonesia bisa dibuat garam.

Cuaca

Cuaca berangin, di mana semakin kencang angin yang tertiup maka akan mempercepat penguapan air laut. Hal ini diimbangi juga dengan faktor suhu udara pada wilayah itu.

Jika suhu udara panas dan udara bertiup kencang, maka air akan cepat menguap, tapi kalau kondisinya dingin, hasil yang di dihasilkan tidak seperti ketika suhunya panas.

Tanah

Sifat porositas (daya serap tanah) sangat mempengaruhi proses pembuatan garam, terutama dengan cara tradisional. Apabila kecepatan perembesan air dalam tanah lebih cepat dari proses penguatan, maka garam yang dihasilkan tidak akan terlalu banyak.

Kondisi Air

Konsentrasi air garam supaya bisa mengkristal ialah antara 25-29° Be / 25-29 derajat Baume (diukur dengan alat bernama Baumemeter). Bila konsentrasi air di bawah 25° Be, maka kalsium sulfat akan banyak mengendap, sementara jika konsentrasi air lebih dari 29°Be maka magnesium akan banyak mengendap.

1. Mengalirkan Air Laut ke Tempat yang Luas

Tempat yang luas (biasanya memakai sepetak tanah yang sudah dipersiapkan khusus) dipakai untuk menampung air laut yang akan menguapkan air laut.

2. Menjemur di Bawah Terik Matahari

Air yang telah terkumpul pada sepetak tanah, dijemur di bawah teris sinar matahari supaya air laut bisa menguap dan menyisakan butiran-butiran kristal yang akan menjadi garam.

Di sini lah mengapa ketika kemarau berkepanjangan atau tidak mengalami hujan produktivitas garam akan meningkat.

3. Memanen Garam

Penguapan air laut akan menyisakan garam yang akan kita panen. Petani garam tinggal mengumpulkan dan mengambilnya untuk bisa dipanen. Garam yang telah terbentuk selanjutnya dipanen dengan cara dikerik memakai alat pengerik yang terbuat dari kayu.

Setelah air tercampur dan garam sudah larut, lalu larutan garam disaring agar air jernih. Setelah melalui proses penyaringan air tersebut direbus dengan memakai bara api sekitar 3-4 jam atau lebih, setelah itu jadilah garam rebus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *