Bisnis Mati Suri Bagaimana Nasib Karyawan

Bisnis Mati Suri Bagaimana Nasib Karyawan

Bisnis Mati Suri Bagaimana Nasib Karyawan

Bisnis Mati Suri Bagaimana Nasib Karyawan, – Fatah (27) nanar menatap gulungan terpal membisu rapi di rumahnya Malang, Jawa Timur. Beberapa bulan terpal itu menganggur.

Bisnis penyelenggara acara (event organizer) keluarga yang berdiri 15 tahun lalu itu mati suri sejak Maret lalu. Penyebabnya, pandemi virus corona.

Ia pusing tujuh keliling. Di satu sisi ia harus memikirkan isi periuk nasinya. Di sisi lain, ia harus memikirkan gaji dan THR 15 karyawan serta utang usaha Rp100 juta yang dihimpunnya dari bank.

Sejak virus corona menyebar, praktis tidak ada pemasukan yang bisa ia dapatkan untuk memenuhi semua kebutuhan itu. Untuk periuk nasi, ia masih bisa mengakalinya dengan menguras isi tabungan dan meminjam ke sanak famili.

Pasalnya, walau virus corona melanda, ia dituntut harus menambal pengeluaran Rp10 juta per bulan yang biasanya bisa didapat usahanya.

“Mau tidak mau harus pakai uang tabungan, berat sekali karena sektor kami dilarang sama sekali sejak Maret,” ucapnya

Tapi untuk dua kebutuhan lainnya, ia bingung. Akhirnya, langkah menyesakkan ia ambil.

Seluruh persyaratan telah dipenuhinya; bisnisnya terdampak wabah virus corona, ia juga tak memiliki rekam jejak menunggak atau gagal bayar cicilan.

Sayang upayanya tak langsung membuahkan hasil. Meski sudah mendaftar April lalu, ia tetap belum mendapatkan keringanan.

Padahal tekanan yang dihadapinya sudah berat. Kabar gembira baru didapatnya Juni ini. Permohonan keringanan pembayaran kreditnya disetujui.

Ia diperbolehkan menangguhkan pokok dan beban bunga selama 6 bulan mulai Juni ini. Namun kabar baik itu disertai beban tambahan.

Karena tak bisa membayar gaji, ia terpaksa memilih langkah menyesakkan; merumahkan 15 karyawan hingga waktu yang belum ditentukan. Pasalnya, ia tak kuat lagi membayar gaji karyawan.

Tapi untuk pinjaman ke bank, ia masih kebingungan. Pucuk dicinta ulam pun tiba.

Di tengah tekanan kebingungan, Fatah mendapat kabar menyejukkan. Ia mendapatkan informasi soal pemberian keringanan pembayaran kredit bagi pelaku UMKM.

Tak ingin buang-buang waktu, ia langsung tancap gas dengan segera mendaftarkan diri untuk mendapatkan kelonggaran tersebut.

Ia mengaku dibebankan bunga tambahan dari bank selama periode penangguhan pembayaran cicilan kredit. Bunga tambahan itu ia harus bayar pada 6 bulan terakhir pembayaran cicilannya pada 2025.

Walau berat, ia menerima tawaran tersebut. Lumayan, keringanan itu ia bisa pakai untuk bernapas dan menata rencana saat New Normal nanti.

“Kredit saya baru ditangguhkan tapi prosesnya lama padahal sudah diajukan dari Maret. Usaha itu kan mati waktu corona muncul tapi relaksasi setelah 3 bulan baru dikasih, 3 bulan itu yang saat butuh-butuhnya,” ucapnya.

Untuk sekarang ini, Fatah tak punya keinginan muluk-muluk setelah pembayaran kreditnya dilonggarkan. Ia hanya ingin usahanya jalan lagi.

Bantuan modal kerja dari pemerintah kepada pelaku UMKM seperti dirinya dinilainya sangat dibutuhkan untuk menyambung usaha yang sebulannya memberikan pendapatan bersih sebesar Rp4 juta hingga Rp5 juta itu.

Permasalahan penyaluran stimulus UMKM itu memang mendapat perhatian dari Menteri Keuangan Sri Mulyani. Pemerintah sebenarnya sudah menggelontorkan anggaran Rp123,46 triliun.

Tapi, sampai dengan keluhan disampaikan oleh pelaku UMKM, stimulus baru tersalur 0,6 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *